Darwin
Friday, July 21, 2006
Tadi pagi saat mendengar ceramah Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Sosial Tzu Chi yang sekaligus disebut sebagai Bunda Teresanya Asia, suatu kepedihan timbul.
Eropa dilanda musim panas yang mencapai 47 derajat Celsius. Israel menyerang Lebanon, dan yang terdekat, Pangandaran dihantam tsunami.

Beliau mengatakan semua ini, baik bencana oleh manusia maupun alam, adalah kumulasi dari karma buruk yang terkumpul oleh manusia.
Suatu pernyataan yang berusaha menyadarkan kita sebagai umat manusia, betapa rapuhnya sebenarnya umat manusia itu.
Ada beberapa hal yang menarik untuk kita simak:
- Buku The World is Flat yang isinya mengangkat perkembangan dunia yang super cepat, dimana pusat-pusat customer hotline di Amerika ternyata ditanggapi oleh call center di India. Sebuah kemajuan peradaban yang di saat yang sama bagi saya justru mencemaskan. Kenapa? Dunia ini dari hari ke hari dikuasai oleh orang-orang 'pintar'. Orang yang bisa menggunakan otaknya dengan utuh. Jikalau di masa depan, hanya segelintir orang yang berkuasa, dan jika mereka ini adalah orang-orang yang mengutamakan kepentingan pribadi, maka hancurlah peradaban manusia yang manusia saat itu.
- Bencana yang tidak henti-hentinya melanda Indonesia. Sebelum tsunami pun kita sudah mendengar tentang banjir. Sejarah mencatat bahwa sebenarnya Indonesia memang selalu menjadi langganan bencana, tetapi kenapa justru belakangan ini semakin sering? Apakah karena kekuatan media? Di satu sisi bisa jadi karena terlalu dibesar-besarkan tetapi melihat intervalnya yang beruntun, hal ini menjadi menarik untuk disimak. Saya tidak ingin melihat hal ini dari sudut pandang Permadi atau siapa, tapi mungkin benar karena dosa kita terlalu banyak.
- Kasus penutupan gereja secara paksa, korupsi yang merajalela, orang-orang baik dianggap aneh sementara kekerasan dipuja-puja (Saya rasa kita semua TST)
- Pemanasan global yang dari tahun ke tahun terus menciptakan rekor terpanas dalam sejarah.
- Pembantaian HAM manusia atas nama demokrasi, menyerang sebuah negara dengan seenak hatinya padahal tujuan di balik itu adalah MINYAK!
- Ketidakberdayaan PBB dalam melakukan sesuatu untuk menghentikan peperangan baik di Asia, Timteng, bahkan Afrika.
- Salah satu artikel yang menuduh Nadine sebagai penyebab tsunami Pangandaran. (Where does this stupid statement come from?)
Dan begitu banyak lagi hal-hal yang terus terjadi di sekitar kita yang begitu cepat. Mengutip sharing rekan Nanang pagi ini, dengan mengunjungi lokasi bencana, kita semakin sadar, hidup ini sangatlah fana. Kita tidak pernah tahu kapan maut datang menjemput kita.
Satu pertanyaan yang tersisa untuk diri saya, 'Sudahkah saya mempersiapkan diri saya sekiranya maut menjemput saat ini juga?'
Apakah saya masih akan terus cuek sampai akhirnya segalanya sudah terlambat?
Monday, July 17, 2006
11 Juli 2006 kemarin, UU Kewarganegaraan yang baru akhirnya disahkan.
Pertama, saya ingin mengucapkan selamat kepada para pengusaha Tionghoa yang terus melobi agar UU ini segera disahkan. Dengan disahkan UU ini, timbul harapan dari masyarakat Tionghoa agar bisa diterima seutuhnya menjadi masyarakat Indonesia yang asli.
Saya tidak tahu berapa banyak usaha yang dihabiskan untuk ini, tetapi menjadi suatu prestasi karena akhirnya pemerintah mau lebih tanggap dengan kehidupan bersama yang lebih harmonis.
Meski masih banyak mendengar permintaan SKBRI di daerah-daerah sampai saat ini, tetapi saya bersyukur pemerintah mau mengambil langkah pembaharuan demi kepentingan masyarakat negeri ini. Dalam hal ini, saya menekankan bukan hanya bagi masyarakat Tionghoa, tetapi masyarakat Indonesia pada umumnya.
Dengan ada UU ini, semoga di daerah, para pejabat mau mengakui UU ini sehingga permintaan SKBRI dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan diskriminasi bisa dihapuskan.
Berbeda dengan tulisan saya sebelumnya, saya melihat ada upaya berpikir positif yang coba diciptakan oleh para pelopor di atas sana, dan sebagai orang kecil, saya berharap bisa mengubah cara berpikir saya ke sebuah arah yang lebih membangun.
Sebagai orang Tionghoa yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat kental, saya dididik untuk menjaga jarak antara Tionghoa dan non Tionghoa. Meski teman sepergaulan saya berasal dari etnik yang berbeda-beda, pada kehidupan sehari-hari, tetap ada perbedaan menuju ke arah sana.
Dengan adanya UU ini, semoga kita semua, termasuk masyarakat Tionghoa bisa mendidik generasi seterusnya untuk memandang sesuatu lebih sebagai sebuah individu dan bukan karena latar belakang etnisnya. Tidak ada etnis yang lebih superior. Kita semua sama, dalam suatu kehidupan yang berbhinneka tunggal ika. I love this country.

From Indonesia, Nadine Chandrawinata
Suatu kebanggaan melihat Nadine mengikuti ajang pemilihan Miss Universe kali ini. Dengan tampang yang menjanjikan, Nadine maju menerjang tantangan dari segelintir orang.
Banyak yang mengatakan kalau mengikuti Miss Universe ini menurunkan martabat wanita. Apakah benar demikian? Trus bagaimana dengan Menhunt International? Apakah itu menurunkan martabat pria? Mengapa gak ada yang protes?
Mengenai Nadine yang memakai bikini, so what? Memangnya yang di kolam renang itu bukan bikini? Memangnya kalau memakai bikini trus akan merusak bangsa ini? Gak tuh! Bangsa ini jatuh karena KKN, karena courtesy yang rendah. Malu membaca artikel di Reader's Digest kalau bangsa ini tergolong paling rendah dalam hal sopan santun. Ok, kita cukup lumayan dibanding negara Asia yang lain, tapi toh kalau mau dibandingkan, bandingkan dengan New York atau Zurich. Jadi malu...
Kalau mau dibandingin, bandingin yang benar, jangan setengah-setengah!
Bukannya kita mendukung Nadine, malah kita menjelekkannya. Email tentang bahasa Inggris Nadine yang 'hancur' menurut sebagian orang justru menunjukkan keangkuhan orang tersebut. Memangnya salah kalau bahasa Inggrisnya kurang bagus? Orang yang baru belajar pun pasti akan melewati tahap yang sama. Jadi jangan cepat menertawakan orang, kecuali kalau Anda dilahirkan dan langsung jago berbahasa Inggris. Kalau alasan Anda karena Nadine mewakili Indonesia, harusnya jago berbahasa Inggris, pikirkan peserta dari China yang justru tidak bisa dan dengan bangganya menggunakan bahasa Mandarin. Setidaknya Nadine berani mencoba.
Jadi, selamat berjuang! Apapun hasil yang kamu dapatkan, kamu sudah menunjukkan bahwa setidaknya kamu sudah berusaha! Jia You Nadine!
Friday, July 07, 2006

Hari ini (7 Juli), sempat membaca satu artikel di detik.com yang judulnya "Status Kewarganegaraan Atlet Berprestasi Dipermudah".
Kalimat pertamanya berbunyi "Atlet Indonesia warga keturunan bisa bernafas lega...."
Selanjutnya ditegaskan pernyataan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin bahwa ini sesuai prinsip non-diskriminasi dan menghargai prestasi seseorang terhadap bangsa.
Pertanyaan saya? Mengapa sekarang baru atlet-atlet berprestasi ini akan dihargai? Setelah prestasi bulutangkis kita menurun jauh, setelah satu-satunya atlet yang bisa dibanggakan hanyalah Taufik Hidayat dan ini pun penuh dengan sepak terjangnya yang menghiasi berita infotainment kita setiap hari dengan gosipnya.
Masih ingat era Susi Susanti dan rekannya yang pulang membawa emas pertama dan kedua untuk Indonesia di Olympiade. Belum lagi jauh sebelumnya dengan prestasi Rudi Hartono dan Lim Swee King cs di All England. Setelah sekian lama, baru hal ini mulai diangkat kembali? Prestasinya merebut medali perak di Olympiade Sydney 2000, juga tidak membuat Hendrawan mendapatkan kemudahan saat mengurus surat-surat untuk pernikahannya. Bahkan sempat dipersulit dalam pengurusan paspor saat akan bertanding ke luar negeri DEMI BANGSA INI yang mengharuskan Presiden Megawati saat itu turun tangan!
Kembali pada pengurusan dokumen bagi warga keturunan. Saat Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa SKBRI sudah tidak diperlukan sejak awal 2000, saya yang mengurus paspor pada awal 2005 tetap ditolak tanpa melampirkan SKBRI. Meski saya tanggapi dengan pernyataan Yusril, jawabannya, "Itu hanya konteks wacana. Pelaksanaanya masih wajib." Dalam hal ini saya melihat keputusan pemerintah kita di tangan pegawainya tidak ada artinya.
Belum lagi KTP saya yang per tahun 2003 diganti dari nomor 2 menjadi 1, tetapi ditengahnya tetap diselipkan 0.000.02.000.00.00.00 ditengahnya. Sebagai tanda bahwa saya ini warga keturunan. Sementara masih dalam ingatan saya dengan jelas pemerintah sudah menyatakan tidak ada perbedaan dalam penomoran KTP.
Saat membaca artikel di detik.com hari ini, saya sangat kecewa. Kecewa karena hanya atlet berprestasi yang dipermudah (meski ini masih sangat diragukan), bagaimana dengan warga keturunan yang lain? Mereka yang tiap hari bekerja untuk perputaran sendi ekonomi negara ini, apakah mereka tidak berjasa? Para pembuka lapangan kerja bagi masyarakat yang tidak diperhatikan pemerintah, apakah mereka tidak berjasa? Kaum marginal yang selalu dijadikan kambing hitam oleh pemerintah dalam krisis dan konflik, apakah mereka tidak berjasa? Bahkan mereka begitu pasrah meski hingga hari ini pemerintah tidak begitu antusias mengungkap kasus kerusuhan Mei 1998, padahal mereka hanyalah korban politik dari segelintir orang yang haus kuasa.
Mungkin memang saya seharusnya bersyukur bahwa ini suatu kesempatan yang baik dan sebuah langkah awal yang lebih baik, tetapi saya pesimis kenyataannya akan terwujud. Tapi siapa tahu saya salah. Siapa tahu kali ini pemerintah benar-benar bisa mengajak pegawainya di lapangan dan di daerah-daerah untuk menjalankannya bersama.
