Darwin

Monday, July 06, 2009


Perjalanan pengabdian hidup Sang Guru, Un Can Lao Shi dalam pengembangan edukasi di Bagansiapiapi.

Di masa muda, pria kelahiran tahun 1938 ini bertekad mewujudkan cita-cita-nya sebagai seorang pendidik. Kecintaannya akan sastra Tionghoa mengukuhkan komitmennya untuk mengajar sampai hari tua dengan harapan agar generasi muda bisa memahami dan mengerti sastra Tionghoa sehingga bangga dengan eksistensi mereka.

Memulai karier dari tahun 1955, beliau bergabung dalam tim pengajar sekolah Tiong Hua Kong Ou. Dua tahun beliau mengajar di kelas sore dan pada tahun ketiga mulai mengajar di kelas malam yang waktu itu disebut Ya O Po. "Waktu itu gaji saya sebesar Rp.525,- namun saya masih bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung” katanya.

Tahun 1958, beliau pindah ke sekolah Methodist dan sempat mengajar selama hampir 4 tahun.

Perjalanan kariernya dilanjutkan dengan mengajar di kampung pesisir di Pulau Halang, beberapa jam perjalanan dari Bagansiapiapi. Selama satu setengah tahun beliau mengabdi di daerah Tua He Zam yang saat ini lebih dikenal dengan nama Pa Ao (Pulau Halang belakang).
Dua tahun berikutnya beliau abdikan untuk pengembangan pendidikan di daerah Shi Ngo Zam yang kini juga menjadi bagian dari Pa Ao.

Selanjutnya beliau mengikuti pekerjaan buruh di beberapa tempat, seperti : ikut di Pai Tia dan melaut (thua bang). Masa-masa ini adalah saat awal bahasa Mandarin mulai dilarang.

Tahun 1977, beliau memutuskan untuk kembali meneruskan cita-citanya menjadi pendidik dengan membuka kelas private. Ketika zaman orde baru, kekangan dari pemerintah akan pengenalan sastra begitu terasa, walau harus dengan sembunyi-sembunyi namun beliau tetap mengajar. Tujuannya hanya satu, mewariskan identitas yang perlu dilestarikan.

Bukan rahasia umum lagi bahwa beliau sering masuk penjara karena misi pendidikannya. “Uang saya selalu habis di setiap kali masuk penjara, semua hasil simpanan selalu dijadikan uang jaminan atau mengurus proses keluarnya saya dari penjara.” Namun tantangan-tantangan ini tidak menyurutkan semangat mengajar beliau. Dalam perjalanannya, beliau tetap teguh dengan keyakinannya walaupun delapan kali dijebloskan ke penjara selama masa orde baru.

“Untunglah saat ini pemerintah sudah mengijinkan keleluasaan dalam mempelajari sastra Tionghoa, sehingga semua murid bisa belajar dengan tenang” tutur beliau.

Ketika ditanya “kenapa Lao Shi (guru) Un Can memilih jalan hidup seperti ini? Beliau dengan yakin menjawab, “Ini adalah tanggung jawab saya untuk memperkenalkan sastra Tionghoa kepada generasi penerus.”
Sehingga tidak heran kalau kita sering mendengar kisah dari para mantan muridnya yang memuji kebaikan sang guru. “Un Can Lao Shi mengajar dengan displin, bila ada murid yang tidak serius beliau tidak akan tanggung-tanggung mengusirnya namun sebaliknya bila ada yang suka belajar beliau akan menampungnya walau tanpa dibayar sekalipun.”

Sungguh sebuah pengabdian yang luar biasa. Kini, di usianya yang ke-72, beliau masih mengangkat buku dan meneruskan cita-citanya. Saat kami menemui beliau, penglihatannya sudah semakin memburuk tetapi hari itu, beliau masih akan mengajar hingga jam 10 malam.

Kami bertanya, “Guru, apa harapan Anda ?” Jawabannya sederhana tetapi membuat kami sangat terharu, “Semoga semua orang mengerti sastra Tionghoa dan bisa dijadikan bekal di masa depan.” Sebagai seorang guru, beliau ingin mengantarkan murid-muridnya agar bisa berkompetisi dan meraih kesuksesan mereka.

“Selain itu, apakah ada impian lain yang belum guru capai?“
Dengan agak lesu beliau menjawab, “Impian saya kini tinggal mimpi, di setiap kali saya terbangun saya mendapatkan diri saya yang sudah tua ini tidak lagi mampu mencapai impian saya. Langit pun tidak menjawab, bumi pun tidak bergetar di setiap kali saya memohon.”

Sangat menyayat hati melihat mimik muka sang guru apalagi melihat mata tuanya yang tidak lagi berfungsi dengan baik ini mengeluarkan air mata. Kami tersentuh tetapi tidak tahu harus berbuat apa, terlebih ketika mendengar, “Saya yang sudah tua ini kini melewati hari tua saya dengan makan tak tenang tidur tak lelap.”

Penasaran dengan impian yang membuatnya begitu menderita, kami memberanikan diri bertanya, seperti apakah impiannya itu?
Ternyata beliau tidak berharap banyak, sebuah harapan yang sangat umum, sangat wajar, sangat mendesak. Beliau membutuhkan sebuah tempat tinggal untuk melewati hari tuanya.
Kini tempat yang ditinggalinya adalah sebuah rumah kontrakan di jalan Sedar, Bagansiapiapi.
Sementara rumah yang ingin dibeli seharga Rp170 juta, yang oleh Guru Uncan sendiri menginfokan masih butuh sekitar Rp70 juta. Penangkaran sarang walet dan pertumbuhan ekonomi di Rokan Hilir telah melambungkan harga rumah di Bagansiapiapi.

Kami telah mendapat ijin dari beliau untuk meneruskan kisah hidupnya untuk dibagikan ke semua teman-teman sekampung.
Setelah kami berembuk, kami memutuskan akan mencoba menghubungi teman-teman yang dulu mungkin pernah mengikuti kelas beliau ataupun ada yang seperti kami yang walau tidak pernah menjadi muridnya namun sangat menghargai dedikasi dan jasa beliau.

Bila teman-teman tertarik untuk ikut bersama kami menyisihkan sedikit dana dalam memberikan sebuah apresiasi atas dedikasinya dalam pengembangan pendidikan khususnya sastra Tionghoa (Mandarin), maka jangan sungkan untuk menghubungi kami di : 021-332-22426 (332 - BAGAN).

Atau dana bisa ditransfer ke BCA rek no : 48 111 666 39 a/n Willington Aripin.
Rekening ini adalah rekening bersama yg dikelola oleh BON - Bagansiapiapi Online Network.

Untuk memudahkan kami melacak penyaluran dana karena rekening ini juga digunakan untuk misi sosial BON yang lain, mohon agar menambahkan Rp 500, misalnya Rp. 20.500,- atau Rp. 1.000.500,- pada saat Anda mentransfer dana atau tambahkan kata "Untuk Guru Un Can" di kolom pesan saat Anda melakukan transfer via ATM, komputer atau mobile.

Mohon abaikan email/pesan ini bila sudah lewat dari tanggal 20 Juli 2009.

Labels: ,

posted by rudy darwin at 10:06 AM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home