Darwin
Monday, November 05, 2007
Kisah kedua masih dalam buku Lingkaran Keindahan (Bisa didapatkan di Gramedia) karangan Master Cheng Yen, mengangkat tentang sebuah kehidupan yang baru.
Satu kalimat yang bagus adalah 'Pikiran Menciptakan Segalanya'
Membaca kalimat ini, saya teringat salah satu teman di Tzu Ching, Rita Lestari.
Pertama kali mengenal Rita, saya melihatnya sebagai sosok yang sangat penakut. Saya masih ingat waktu itu pas makan malam di Papa Ron's Pluit. Rita diajak oleh Viny dan kita makan bersama waktu itu.
Lama-kelamaan, saya sangat tersentuh olehnya, terutama oleh kepolosannya.
Seseorang yang sudah tamat mahasiswa, yang sudah terjun ke dunia kerja tetapi masih memegang kepolosan yang begitu luar biasa. Mirip Fang Ji-wei, pemeran A Chua dalam drama Seputih Cahaya Rembulan yang sedang keluarga kami nonton bersama.
Setahun lebih aktif di Tzu Ching, hari ini pun Rita masih menunjukkan kepolosan yang luar biasa. Dari dia, saya menyadari akan eksistensi sosok yang bisa menjadi teladan bagi semua.

Friday, November 02, 2007
Penasaran dengan postingan saya sebelumnya mengenai banyaknya mobil berkeliaran di jalan yang hanya diisi satu orang.
Dalam perjalanan pulang semalam, ditengah hujan yang turun rintik-rintik membasahi helm saya, saya terpikir utk melakukan satu percobaan.
Saya ingin menghitung dalam sepuluh mobil pribadi yang saya lewati, tidak termasuk angkutan umum, mobil dinas, truk, ataupun pick-up, ternyata penghitungan pertama menghasilkan 7 dari 10 mobil ternyata hanya diisi satu orang. Sedang tiga yang tersisa adalah 2 oleh 2 orang dan 1 oleh 3 orang.
Penasaran, saya mencoba menghitung lagi, yang kedua ini, 6 dari 10 mobil diisi 4 orang. Saya hitung lagi dan lagi dan lagi... Sepanjang perjalanan dari Mega Kuningan menuju Grogol, tidak terhitung berapa banyak mobil yang saya hitung dan lucunya angkanya selalu antara 6 dan 7.
So, apakah boleh ditarik kesimpulan bahwa 65% (saya mengambil angka tengah) pengguna mobil pribadi hanya diisi satu orang? Pantas Jakarta makin lama makin macet...
Anyway, data ini bukan ilmiah dan juga tidak akan applicable di hari minggu/libur yang rata-rata justru mengangkut keluarga yang jumlahnya lebih dari satu orang.
Yang penting, bagaimana kita bisa mengisi mobil2 yang hanya terisi satu orang ini dengan jumlah yang lebih banyak? 2, 3 bahkan lebih sesuai kapasitas yang ada. Jika bisa, maka setiap hari jalanan jakarta akan seperti saat lebaran dimana jalan lancar dan lenggang.
Indahnya jakarta kala itu
Labels: sharing, transportasi
Thursday, November 01, 2007
Kaget saat membaca cuplikan artikel di halaman depan Kompas hari ini (2 Nov)
Judulnya Wajib Militer Akan Diberlakukan
OMG, ini negara mana ya? Masa sih Indonesia?
Ternyata emang benar, Indonesia!
Ternyata Dephan sedang menggodok RUU untuk kemudian diajukan ke DPR.
Wajib militer ini akan diberlakukan wajib kepada semua WNI berusia 18-45 tahun, Glurp!
Aku termasuk! Kan tahun depan 18 tahun hahahahaha!
Kaget, senang bercampur kesal!
Senang:
1. Ini olah raga
2. Bisa cobain senjata, kan seru tuh apalagi dari kecil nonton Rambo, Commando, pokoknya seru deh, kaya main Paint Ball beneren.
3. Membentuk tubuh. Zaman gini kan semuanya serba six pack, kalo gw bisa mengubah Big Mac jadi six pack, lumayan juga...
4. I want to be a hero, want to do something for my country, so prepare myself seandainya suatu hari nanti AS gatal ama kita atau Ambalat kemasukan Malingsia? Maybe?
Kesal:
1. Gile! hari gini masih harus wamil? so out of date!
2. Emangnya penduduk kita kurang apa? Bukannya tiap tahun yang daftar jadi tentara banyak, ngapain juga gw diikutkan?
3. Karier gw gimana nanti? Masa stop 2 tahun, mulai dari awal lagi dong? - alasannya maksa kali ya
Anyway, masing-masing punya pandangan yang beda, lagipula gw ga yakin bisa berjalan dalam waktu dekat ini, so cuek aja. Lagian kita liat dulu komentar dari DPR, mana mau anggota DPR kita yang terhormat ikut-ikut ginian? Malu kali ya kalo disuruh latihan militer dengan perut segede gitu?
Ada yang membaca Kompas hari ini (2 Nov 07) hal 8, di kolom Kilas Luar Negeri.
Sayang aku tidak bisa men-scan fotonya untuk dilampirkan di sini.
Fotonya menunjukkan seorang 'nenek' mencium seorang bayi
Oke, saya sengaja menulis 'nenek' karena tanpa membaca teksnya, secara refleks saya menganggap itu nenek. Ternyata 'nenek' itu adalah seorang Artis yang mengalami kebakaran di bagian wajah akibat terkena soda api dalam sebuah kecelakaan perjalanan, Des 2006. Ia menolak mengonsumsi antibiotik karena saat itu sedang mengandung anaknya, yang sudah ia lahirkan. Ia tinggal di rumahnya di Xiantao, Provinsi Hubei (Kompas).
Artis ini bernama Xiong Li. Tadi sempat search di Google untuk mencari gambarnya ternyata tidak ketemu.
Seharusnya sebagai artis, wanita ini tergolong cantik dan akibat kecelakaan tersebut seharusnya dia mendapatkan perawatan yang mengharuskan dia mengonsumsi antibiotik untuk kesembuhan kulit dan nyawanya. Tetapi karena cintanya pada sang bayi dan kekuatiran akan kehilangan sang janin jika mengonsumsi antibiotik, maka hal itu tidak dilakukannya.
Hari ini, senang sekali melihat kisah yang begitu mulia. Memang benar, orang tua terus melakukan hal-hal yang mencengangkan untuk anak-anaknya. Bagaimana dengan kita selaku anak mereka?
Perjalanan hari ini luar biasaaaaaaaa... Apanya yang luar biasa?
Macetnya. Dari Latumeten menuju S Parman, melewati flyover Grogol, sungguh mengesalkan.
Sempat kesal, kenapa sih pada ga bergerak? Apa yang salah? Kenapa hari ini ekstra?
Sepanjang perjalanan sempat kesal juga, kenapa ya?
Flash back email beberapa hari ini
Di forum pembaca Kompas, banyak yang mempersoalkan pembangunan Busway yang membuat beberapa ruas tambah macet. Saya pribadi merasa cukup senang dengan kehadiran Busway ini meskipun beberapa kali saat mencobanya, waduh ternyata antrinya panjang banget, udah gitu nunggunya lama... Tapi bagaimanapun juga banyak orang yang merasakan manfaatnya...
Selama dalam perjalanan, saya melihat begitu banyak mobil yang isinya hanya 1 orang. Satu bo! Satu mobil hanya menampung rata-rata 1 orang, pantes!
Saya mencoba membayangkan pro & kon menggunakan mobil
1. Gengsi? Bisa ya bisa tidak
2. Lebih nyaman, apalagi Jakarta panas, trus kalo hujan, terlindungi
3. BBM dan perawatan yang mahal
Motor:
1. Cepat
2. Murah
3. Panas
Angkutan Umum:
1. Murah
2. Panas
3. Bahaya
Bagaimanapun juga, saya merasa kendaraan di Jakarta harus bisa ditekan, selain untuk mengurangi polusi dan kelestarian lingkungan akan penggunaan BBM yang berlebihan, juga untuk kenyamanan Jakarta sebagai ibukota itu sendiri. Saya pernah membaca artikel di koran bahwa dengan tingkat pertumbuhan kendaraan seperti sekarang ini, maka tahun 2014, Jakarta akan macet total! Bahkan untuk keluar dari rumah saja susah, hahaha!
So what is the solution:
1. Ada yang menganjurkan sepeda - sori, not for me, karena jurusan Grogol - Mega Kuningan, bisa menghabiskan berapa liter keringat plus debu plus de el el
2. Busway - perlu didukung, tinggal diperbanyak bus dan kenyamanan feeder menuju stasiun Busway. Sepertinya saat ini Feeder masih belum banyak, yang terbagus mungkin dari daerah luar Jakarta seperti BSD.
3. MRT/LRT/Monorail - apapun namanya yang tepat- kapankah direalisasikan?
4. Motor - Setidaknya badannya lebih kecil kan? Lebih gampang bergerak asal please untuk pengguna motor, jangan sembarangan, motor juga ada aturannya!
5. Nebeng - Salah satu website yang bagus adalah nebeng.com dimana beberapa orang bisa bergabung dalam satu mobil untuk tujuan yang sama. Dengan demikian, akan mengurangi penggunaan BBM, kemacetan, polusi, dan bahkan menambah teman dan relasi.
6. Ada lagi mungkin yang lain???
Yang terpenting, mari kita dukung rencana-rencana yang mengarah ke pembangunan yang lebih positif. Let's hope to see a better Jakarta soon
Labels: sharing, transportasi
Have heard a lot of how good others' relation with their parents. How they take care of the parents patiently, with love, care and endless effort.
Having watched 'Ketika Gladiol Bersemi' in Daai TV about how 4 brothers take care of their mom for 14 years, accompanying her twice a day walking to the hill for exercise, truly shows how loving the children can be.
As a Tzu Chi volunteer, attended the musical drama 'Filial Piety Sutra', trying to be good to parents is a must. All the time, I have been staying with my sisters in Jakarta and my mom in Riau. And once my Mom came to Jakarta, it seems that the chance is here.
Too good to be true, theory is not as easy to be put into practice. Trying to be nice to her, it seems that her way of thinking is totally different from the way we think now. For the last nine years, I seldom spend time with her. Thinking that everything will be the same, I realized that it was me who changed, for good and bad.
Just realized that generation gap is not as easy as it seems and it is true that one need to use wisdom to be able to practise this. So next time when I see someone who practise filial piety well, I know I have to respect them as they are the people with wisdom.
Once Confusius said, "compassion starts with filial piety". Seems it is true.
I heard about this book from Jishou Shibo. He said this is a nice book that he would like to recommend to me.
So that day I dropped by Kinokuniya Plaza Senayan and managed to buy this book.
In the beginning, I thought this book is going to be boring as it is a hard cover book and THICK!
When I opened it, it turns out to be a pictorial book with some very nice pictures.
What I like from the book is the layout and the way the writers put their opinion and message. The authors suggest the reader to finish the book in 45 minutes, at once! For me, it turns out to be more than one hour as in certain part, I need more time to 'chew' the contents.
Anyway, it discusses about positive thinking. It is not something will come in instant, not something that will make you feel it is easy to be positive thinking, but it makes us think that positive thinking is very important and how gradually we can make us into that.
It is not offering a new concept of thinking, but the strength of this book is on the way the authors convey the message. The way that you want to finish the book once you start reading it.
Recommended!
Labels: book