Darwin
Thursday, June 29, 2006
Sebagai praktisi dalam dunia TV dan juga pengemar acara TV, berita di koran Tempo tanggal 28 Juni 2006 hal. A3 mengenai keinginan Trans TV mengambil alih TV7 cukup mengkuatirkan. Perkembangan media tanah air mengarah pada sistem kartel yang sempat berlaku di Amerika pada tahun 70an dimana industri TV dikuasai oleh beberapa network raksasa.

Saat ini MNC sudah menguasai RCTI, TPI, Global TV, Harian Sindo, Trijaya Network, dan Indovision. Masuk lagi dengan SCTV yang dikabarkan menjadi sister companynya O Channel (?). Di sisi lain, JakTV berada di bawah Mahaka, satu grup dengan Harian Indonesia dan Republika. Juga Indosiar yang sedang mencoba Elshinta TVnya. Anteve dikuasai Star Group dan Bakrie kabarnya sedang mendekati Lativi yang saat ini masih dalam status hidup segan mati gak mau. Metro TV sendiri juga menguasai Media Indonesia. Bukan hanya di Jakarta. Di Surabaya JTV masih satu grup dengan Jawa Pos, begitu juga di Bali, Bali TV berada di bawah Bali Pos, juga memiliki Jogja TV dan Bandung TV. Prime Entertainment sebagai salah satu PH yang terkemuka juga memiliki Sunda TV di Bandung dan Pro TV di Semarang.
Kesemua kepemilikan di tangan tertentu menciptakan sebuah kesan yang agak mencemaskan.
Dalam dokumenter Fahrenheit 9/11 oleh Michael Moore, kita melihat berita kemenangan Bush atas Al Gore sebagai Presiden Amerika karena kekuatan media Fox yang memberitakan kemenangan tersebut meski ada yang percaya itu salah! Karena berita Fox, langsung masyarakat dunia mengakui kemenangan Bush. Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Saat konglomerasi media mulai terbentuk, sudah saatnya pemerintah memberikan kebijakan bagi TV Lokal untuk berkembang dan bertumbuh. Konsep TV di masa mendatang akan lebih banyak berkaitan dengan komunitas terutama di daerah-daerah yang budayanya agak berbeda dengan di Jakarta. JTV misalnya, mengangkat budaya lokal dengan program multi bahasanya dan TV ini berhasil menjadi salah satu TV Lokal yang bisa untung. Tapi bagaimana dengan yang lain? Meski Bali TV dikabarkan untung, tapi saudaranya yang sebendera dikabarkan masih megap-megap.
Bagaimana pemerintah menindaklanjuti perkembangan ini sehingga mindset pemirsa Indonesia tidak terkotak-kotak untuk kepentingan grup tertentu. Jakarta sebagai ibukota dengan pasar terbesar menawarkan banyak persaingan untuk TV-TV baru. Meski sudah ada O Channel, Jak TV dan Space Toon, masih banyak yang merasa kue di Jakarta masih terbuka lebar. Bagaimana merebut kue tersebut yang menjadi pertanyaan sementara kanal frekuensi di Jakarta sudah tidak ada lagi. Menurut Menkominfo, kemungkinan tersebut akan terbuka pada saat Digital TV mulai beroperasi di Indonesia tahun 2007. Tapi kehadiran digital TV tidak akan secepat yang dikira karena harga set-top box yang masih tidak terjangkau dan juga keengganan TV-TV yang sudah ada untuk menanam modal mereka untuk memperbaharui peralatan mereka.
Meski demikian, tetap ada angin segar yang berhembus di Indonesia. Kehadiran MQTV milik Aa Gym bisa menjadi sebuah angin sejuk bagi tayangan dunia TV kita yang tidak jelas peruntukkannya terutama bagi mayoritas umat Muslim. Dan juga di Malang hadir Dhamma TV yang ditargetkan untuk masyarakat Budhis dengan content yang positif. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana persaingan TV-TV yang idealis untuk bisa merebut kue dari TV-TV yang sudah ada.
Selamat datang di babak baru persaingan dunia TV Indonesia yang akan semakin menarik.
Saturday, June 17, 2006
Selama ini saya merasa yang menjadi wajah baru budaya kita adalah hedonism yang kalo tidak diikuti, kesannya aduh, aku ini kok kuper banget, jaim dong! Sebuah bagian budaya konsumerisme yang semakin menggerogoti nilai budaya kita. Sadar atau tidak semakin banyak diantara kita terbawa olehnya.
Beberapa hari ini, di saat kesibukan yang semakin bertambah, saya baru ngeh kalo diantara kita berkembang satu budaya baru. Budaya sok keren yang selalu merasa diri paling pintar dan hebat. Mungkin ini sesuatu hal yang sudah ada sejak zaman baheula dulu tapi yang saya lihat adalah kok ini sebuah hal yang dianggap COOL! Cool man! Kesannya orang seperti ini hebat gitu lho. Yang bingung adalah, kapan budaya kita beralih semacam gitu, dimana orang melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya malah merasa bangga melakukannya. Suatu perubahan peradaban yang entah apakah semakin ketara atau memang sudah lama dan baru kelihatan sekarang.
Sebagai bagian masyarakat, saya percaya setiap orang mempunyai beban tanggung jawab moril pada masyarakat. Saat kita menuntut mendapatkan hak-hak yang lebih baik, kita lupa dengan kewajiban-kewajiban yang harus kita penuhi. Kita maunya yang instant saja, maunya yang positif saja, maunya yang berguna bagi gua saja tanpa memikirkan yang lain.
Saat nilai-nilai ketimuran semakin luntur, tidakkah kita bertanggung jawab meningkatkannya kembali. Saat matahari mulai menyingsing, bukankah itu berarti saatnya kita harus bangun dan mulai berkarya. Gak jelas sih tapi semoga kita tidak pergi dengan sia-sia. Semoga perhentian sementara di dunia ini memberi kenangan yang indah...
Monday, June 12, 2006

Playboy - RUU Pornografi - FPI - Bhinneka Tunggal Ika
Kenapa sih Playboy bisa seheboh itu? Sudah sehancurkah moral bangsa ini. Saya menentang Playboy, meski Playboy Indonesia menegaskan tidak ada pornonya. Kenapa harus ada Playboy? Mendengar kata itu saja, konotasinya sudah negatif. Ngapain juga beli franchise atas nama itu.
Ingin top langsung? Bagaimana akhlak bangsa? Itu nomor dua ya?
RUU Pornografi, setelah berganti nama dari RUU APP masih saja menciptakan pro dan kontra. Kemarin sempat menerima draft RUU Pornografi terbaru. Saya melihat banyak perubahan di sana. Perubahan yang cukup positif.
Persoalannya bukan pada bagus tidaknya RUU ini tetapi apakah benar-benar bisa diterapkan di lapangan? Kita melihat banyak peraturan yang sampai hari ini tidak berjalan.
Saya menentang pornografi dan saya setuju ada UU yang mengatur ini, tetapi kembali UU ini harus dipastikan sesuai. Jangan sampai wanita dianggap seperti setan atau makhluk penuh dosa. Urusan porno itu ada di pikiran masing-masing dan RUU ini kalau bisa cukup membahas penghapusan pengedaran VCD/DVD porno di Glodok. Jangan yang aneh-aneh yang ditindak. Tidak kebayang bagaimana kalau Jakarta nanti seperti Tangerang dengan Perda Pelacuran. Ekonomi memburuk, istri yang ikut bekerja membantu ekonomi keluarga bertambah, kenapa masih dituduh PSK? Apa tidak salah?
Bicara Playboy, tidak terlepas dari FPI dan FBR. Dua saudara sejati ini suka banget bikin onar. Saya setuju mereka memprotes Playboy, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik? Tentang sepak terjang mereka, saya tidak perlu bahas lagi. Hampir semua media ada. Saya hanya ingin menegaskan bahwa saya tidak suka cara kalian dan saya berharap kalian bisa membimbing umat dan masyarakat pada sebuah kerukunan, bukannya sebuah perpecahan.
Tuhan saja menciptakan kita dengan muka yang berbeda-beda karena itu indah, kenapa kita harus mengambil perbedaan sebagai pemecah kita?
NO to Playboy Magazine!
NO to pornography! (meski saya suka!)
NO to anarchy!
YES to peace!
YES to harmony!
YES to tolerance!
YES to diversity!

Penelitian menunjukkan media TV membawa pengaruh yang sangat besar dan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Memang besar, bahkan boleh dikatakan sangat besar karena cakupan TV yang begitu luas dan penetrasi kepemilikan TV dan penggunaan TV sebagai sumber informasi sangatlah tinggi dan terus berkembang.
Sebagai media publik, TV mempunyai tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. TV haruslah bisa mengemban misi positif bagi perkembangan berpikir masyarakat. Seperti waktu saya ketemu seorang guru di Medan. Saat mengetahui saya bekerja di bidang TV, beliau mengatakan bahwa TV sekarang terkesan menjerumuskan. Di saat guru mengajarkan anak-anak untuk disiplin, dunia TV justru menayangkan ketidakdisiplinan sebagai sebuah trend sementara orang yang disiplin justru dibuat 'freak'. Inikah dunia pertelevisian kita?
Saat ditawarkan masuk ke TV dari sebelumnya property, saya tertarik karena TV memberikan sebuah tantangan yang dinamis dan penuh kegairahan. Saat melihat misi Da Ai TV, saya semakin tertarik. TV ini beda, lain dari yang lain, menawarkan sesuatu yang tidak kita temukan dalam masyarakat ini. TV ini boleh dikatakan TV yang idealis.
Satu kekuatiran menyusup ke otak saya. Apakah TV seperti ini bisa bertahan? Bukannya program seperti ini membosankan? Di sisi yang sama, pertanyaan lain muncul, bagaimana dengan masyarakat kita? Saya yakin semakin banyak masyarakat yang capek dengan program yang ada di TV-TV sekarang. Mereka ingin sesuatu yang berbeda, yang menawarkan ketenangan dan cinta kasih, yang mencerminkan keharmonisan.
Meski pada awalnya akan membosankan, tapi ini menjadi tantangan bagi bagian programming untuk menemukan konsep yang bagus, yang menarik untuk bisa dinikmati masyarakat. Bagaimana caranya? Kami belum jelas pastinya tapi kami akan terus mengarah ke sana. Karena itu, dukung kami ya!