Darwin
Friday, July 07, 2006

Hari ini (7 Juli), sempat membaca satu artikel di detik.com yang judulnya "Status Kewarganegaraan Atlet Berprestasi Dipermudah".
Kalimat pertamanya berbunyi "Atlet Indonesia warga keturunan bisa bernafas lega...."
Selanjutnya ditegaskan pernyataan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin bahwa ini sesuai prinsip non-diskriminasi dan menghargai prestasi seseorang terhadap bangsa.
Pertanyaan saya? Mengapa sekarang baru atlet-atlet berprestasi ini akan dihargai? Setelah prestasi bulutangkis kita menurun jauh, setelah satu-satunya atlet yang bisa dibanggakan hanyalah Taufik Hidayat dan ini pun penuh dengan sepak terjangnya yang menghiasi berita infotainment kita setiap hari dengan gosipnya.
Masih ingat era Susi Susanti dan rekannya yang pulang membawa emas pertama dan kedua untuk Indonesia di Olympiade. Belum lagi jauh sebelumnya dengan prestasi Rudi Hartono dan Lim Swee King cs di All England. Setelah sekian lama, baru hal ini mulai diangkat kembali? Prestasinya merebut medali perak di Olympiade Sydney 2000, juga tidak membuat Hendrawan mendapatkan kemudahan saat mengurus surat-surat untuk pernikahannya. Bahkan sempat dipersulit dalam pengurusan paspor saat akan bertanding ke luar negeri DEMI BANGSA INI yang mengharuskan Presiden Megawati saat itu turun tangan!
Kembali pada pengurusan dokumen bagi warga keturunan. Saat Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa SKBRI sudah tidak diperlukan sejak awal 2000, saya yang mengurus paspor pada awal 2005 tetap ditolak tanpa melampirkan SKBRI. Meski saya tanggapi dengan pernyataan Yusril, jawabannya, "Itu hanya konteks wacana. Pelaksanaanya masih wajib." Dalam hal ini saya melihat keputusan pemerintah kita di tangan pegawainya tidak ada artinya.
Belum lagi KTP saya yang per tahun 2003 diganti dari nomor 2 menjadi 1, tetapi ditengahnya tetap diselipkan 0.000.02.000.00.00.00 ditengahnya. Sebagai tanda bahwa saya ini warga keturunan. Sementara masih dalam ingatan saya dengan jelas pemerintah sudah menyatakan tidak ada perbedaan dalam penomoran KTP.
Saat membaca artikel di detik.com hari ini, saya sangat kecewa. Kecewa karena hanya atlet berprestasi yang dipermudah (meski ini masih sangat diragukan), bagaimana dengan warga keturunan yang lain? Mereka yang tiap hari bekerja untuk perputaran sendi ekonomi negara ini, apakah mereka tidak berjasa? Para pembuka lapangan kerja bagi masyarakat yang tidak diperhatikan pemerintah, apakah mereka tidak berjasa? Kaum marginal yang selalu dijadikan kambing hitam oleh pemerintah dalam krisis dan konflik, apakah mereka tidak berjasa? Bahkan mereka begitu pasrah meski hingga hari ini pemerintah tidak begitu antusias mengungkap kasus kerusuhan Mei 1998, padahal mereka hanyalah korban politik dari segelintir orang yang haus kuasa.
Mungkin memang saya seharusnya bersyukur bahwa ini suatu kesempatan yang baik dan sebuah langkah awal yang lebih baik, tetapi saya pesimis kenyataannya akan terwujud. Tapi siapa tahu saya salah. Siapa tahu kali ini pemerintah benar-benar bisa mengajak pegawainya di lapangan dan di daerah-daerah untuk menjalankannya bersama.
posted by rudy darwin at 12:20 AM
0 Comments:
Post a Comment
<< Home