Darwin

Saturday, October 14, 2006

Hsu Chiang

When I joined Daai TV Indonesia, my Media Operation colleague in Taiwan is Monica. When I visited Taiwan, she quit. And I was given a new person to contact, Hsu Chiang.
The first time I met Hsu Chiang, she seems to be a bit scary. She talks so loud and act so fast, some of me feel like I am a bit irritating for her.

As I returned to Indonesia, our interaction improves and we become good friends. She used to help me in almost everything I need from Taiwan, from copying tapes, to opening archive account, to helping me find volunteer to make txt files for our drama. Such things are tiring as they involve a lot of small stuffs and also need assistance from many other departments, but she is always there to help me and I can't remember if she ever complain.

What I envy her is her passion to dogs. She loves dogs so much that she will always bring abandoned dogs home. She will always visit every floor in the Tzu Chi Humanitarian Center to check if someone is willing to adopt the dog she found on the street.

She even collect money from colleague to help sterilize a wild dog to protect the dog from giving birth so that there won't be any puppies left to be caught by government officer. She told me that once caught, they will be put to death through injection, and she strongly oppose that.

However, what touches me the most is her care to me. When I told her that I am resigning, she told me one thing, [Take good care of your heart]. She told me that she believes I will be good if I work in Daai because the philosophy will nurture a good heart for everyone in it. But once I am out, that might not happen anymore. She asked me to take care of my heart.
For me, it's a sign of love and care from a sister to her brother.
Thank you, all I can say is I promise I will do that.
Thank you, Hsu Chiang. Thank you for being a good sister.
posted by rudy darwin at 12:26 AM 0 comments

Friday, October 13, 2006

Berlari dengan Waktu

5 tahun yang lalu di hari ini, Oktober 13 (10/13), Master Cheng Yen menggalakkan gerakan 1-0-1-3 yang dalam bahasa Mandarin mirip [Yi Ren Yi Shan] yang artinya satu orang satu kebajikan. Master menggalakkan ini karena peristiwa 911 dimana kejadian ini menggerakkan Amerika untuk menyerang Afganistan. Master meminta semua orang memperbanyak doa dan juga kebajikan sehingga dunia bisa aman tenteram.

Teringat kembali Ceramah Master beberapa waktu yang lalu mengenai tujuan beliau mendirikan Daai TV. Beliau dengan sedih mengatakan [waktuku semakin habis]... Sebuah ungkapan dimana usia beliau terus bertambah sementara perubahan di dunia ini terjadi begitu cepat. Master merasa waktunya semakin menipis.
Mengingat kembali keinginan beliau untuk menciptakan sebuah dunia yang aman damai. 40 tahun sejarah Tzu Chi, mulai dari misi amal sosial, kesehatan, pendidikan dan dilanjutkan dengan budaya humanis yang salah satu anaknya adalah Daai TV.

Master merasa apa yang dilakukan 30 tahun pertama terlalu pelan dibandingkan perubahan yang terjadi di masyarakat akibat pengaruh media, karenanya beliau akhirnya mewujudkan Daai TV.

Usia Master di saat ini sudah 70-an, dan Master Cheng Yen merupakan pedoman bagi segala tindakan murid-muridnya. Cinta kasih beliau menggerakkan jutaan relawan Tzu Chi di seluruh dunia untuk berbuat kebajikan.

Suatu hari nanti, di kala Master Cheng Yen tidak bersama kita lagi, apakah para relawan masih akan sekuat ini? Apakah Yayasan ini akan tetap ada? Apakah nilai-nilai yang disebarkan akan terus berakar, ataukah akan menghilang seiring perubahan zaman...

Memikirkan kembali kata-kata Master akan waktu yang menipis, apakah memang saatnya kita semua melakukan sesuatu. Di tanggal 13 Oktober ini, teringat Yi Ren Yi Shan, apakah kita masih sanggup. Sungguh, segala sesuatu kini berpacu dengan waktu, dengan perubahan dan pengaruh yang terus menekan. Suatu tantangan dengan membawa sebuah harapan, harapan akan sebuah dunia yang lebih baik.
posted by rudy darwin at 5:21 AM 0 comments

Idealisme versus Materi

Apakah mungkin mengabungkan idealisme dengan pemenuhan materi?
Sebuah pertanyaan yang terus mengusik saya untuk mencari jawabannya.

Sebuah karier untuk idealisme atau sebuah karier untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.
Saya dihadapkan pada sebuah situasi dimana saya diharuskan memilih. Saya diberikan kesempatan untuk mengambil jalur tengah tetapi saya tidak mau. Apakah saya terlalu kaku dalam menanggapi sebuah perubahan?

Daai TV merupakan sebuah perusahaan yang sarat dengan idealisme. Meski pekerjaan di sini serabutan bahkan bertumpuk-tumpuk dengan tantangan yang mungkin 2-3 x lipat dari pekerjaan saya sebelumnya, tetapi bekerja di sini memberi sebuah keyakinan hati bahwa ini adalah sebuah hal yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi tujuannya adalah untuk sebuah dunia yang damai dan tentram.

Di sisi lain, apa yang bisa diharapkan dari Daai TV dalam hal materi, sangatlah kurang. Desakan dari orang sekitar membuat saya harus berpikir dua kali. Meninggalkan pekerjaan saya di Daai TV dan mencari sebuah pekerjaan lain yang bisa membayar lebih banyak atau terus di Daai TV dengan dibayar lebih kecil.

Pada saat saya mengajukan pengunduran diri, atasan saya mencoba menahan saya dengan menawarkan penyesuaian dalam hal gaji. Saya senang sekali karena gaji yang ditawarkan sama dengan apa yang saya terima di tempat baru, tetapi kembali idealisme menyerang. Daai TV adalah sebuah TV untuk kemanusiaan. Pembiayaan Daai TV didapatkan dari sumbangan masyarakat atau individu yang peduli dengan kemanusiaan, apakah boleh saya menerima angka demikian dari Daai TV? Ternyata saya tidak sanggup dan saya memutuskan untuk keluar.

Sebuah pilihan sulit, tetapi mengingat kembali pada kata-kata Confusius, 'berbuat kebajikan haruslah dimulai dengan berbakti kepada orang tua'. Begitu juga dengan kata perenungan Master Cheng Yen, 'Di dunia ini terdapat dua hal yang tidak bisa ditunda, berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan'. Selama ini saya fokus pada berbuat kebajikan tetapi saya justru melupakan keluarga saya sendiri. Mungkin ini saatnya saya berbakti kepada orang tua sebelum segalanya terlambat.

Bagi saya, hal ini adalah urusan pribadi tetapi saya tetap memutuskan untuk menuliskan hal ini dengan harapan pengunduran diri saya tidak menimbulkan gosip yang aneh-aneh. Apakah saya berpikir terlalu banyak?
posted by rudy darwin at 3:26 AM 0 comments